Jika Anda melewati sepanjang Jl Veteran, Jl Juanda dan Jl Medan Merdeka Utara, Jakarta Pusat, pasti akan melihat suasana beda. Tampak berdiri kokoh pagar setinggi kurang lebih 3 meter mengelilingi kompleks Istana Presiden.
Pembangunan pagar tersebut telah berlangsung beberapa bulan terakhir. Saat pembangunan pagar yang memisahkan kompleks Istana dengan ruang publik ini berlangsung, ratusan seng dipajang untuk menutupi proses pembangunan. Tapi kini, pagar besi kokoh tersebut sudah bisa dinikmati.
Sebelumnya, pagar yang mengelilingi Istana cuma setinggi kurang lebih satu meter saja. Pagar tersebut semakin tidak tampak lantaran berjajar dengan tanaman rindang yang biasanya juga berfungsi sebagai pagar tanaman. Namun setelah pagar baru dibangun, tanaman itu sudah tidak ada lagi.
Atas permohonan Menteri Keuangan Sri Mulyani, pembangunan pagar ini telah disetujui oleh Badan Anggaran DPR . Persetujuan ini dicapai dalam hasil rapat Badan Anggaran DPR dengan Sri Mulyani di Gedung DPR Selasa 3 November lalu.
Total biaya untuk merenovasi pagar tersebut mencapai Rp 22,581 miliar. Dana sebanyak itu mencakup penyediaan dana untuk keperluan renovasi pagar halaman dan pemasangan alat sekuriti di lingkungan Istana Kepresidenan dan Wakil Presiden.
Rp 22,5 Miliar untuk Renovasi Pagar Istana Dipertanyakan
Anggaran sebesar Rp 22,5 miliar untuk pembangunan pagar Istana Presiden dan Istana Wakil Presiden dipertanyakan. Anggaran itu dianggap terlalu besar untuk pembangunan sebuah pagar.
“Dengan anggaran Rp 22 miliar patut dipertanyakan. Menggunakan bahan apa, marmer atau besi macam apa,” kata peneliti hukum dan politik anggaran Indonesia Budget Center (IBC) Roy Salam kepada detikcom, Minggu (17/1/2010).
Roy membandingkan pembangunan pagar Istana dengan pagar Monas. Menurutnya, pembangunan pagar Monas yang luasnya mencapai 3 kali lipat Istana Presiden saja cuma menghabiskan dana sebesar Rp 10 miliar.
“Kalau kita lihat dengan renovasi pagar Monas, hanya membutuhkan sekitar Rp 10 miliar kalau saya nggak salah ingat. Padahal luasnya hampir 3 kali dari Istana Negara,” ungkap Roy.
Pagar tersebut dilengkapi dengan pemasangan alat sekuriti untuk mencegah terjadinya bahaya yang mengancam Istana dari pihak mana pun termasuk para teroris. Boy menilai memang penting mengamankan Istana, tapi dengan anggaran sebanyak itu tetap saja menghambur-hamburkan uang negara.
“Saya agak sulit mengatakan ini (keamanan Istana) nggak penting. Ancaman terhadap Istana sedikit berlebihan. Karena terorisme identik dengan fasilitas asing ketimbang simbol-simbol negaranya sendiri,” cetusnya.
Menutup Diri
Roy menambahkan, pembangunan pagar Istana yang kian tinggi menunjukkan Istana makin menutup diri dari dunia luar. Padahal, harusnya Istana sebagai simbol negara lebih mendekatkan diri kepada rakyat.
“Meninggikan pagar Istana harus dilihat dalam konteks mengapa harus ditinggikan. Ini seolah-olah menutup diri dari pandangan rakyat, akses masyarakat,” paparnya.
“Patut dipertanyakan mekanisme tendernya bagaimana. Ini juga harus dilakukan secara transparan,” kata Roy.
Roy meminta agar mekanisme tender pembangunan pagar ini dijelaskan agar masyarakat bisa melihat secara transparan.
“Jangan-jangan ada biaya yang tidak wajar,” katanya. [detik]
Related posts: