Bom Meledak di Rusia, 20 Polisi Tewas & 130 Luka

Share |



Seorang pengebom bunuh diri menabrakkan truk berisi bahan peledak ke markas polisi Nazran di wilayah Ingushetia, Rusia, pada Senin waktu setempat. Akibatnya 20 polisi tewas dan melukai 130 orang lainnya.

Serangan ini merupakan yang terburuk di Rusia selama setahun terakhir. Ledakan ini mematahkan klaim Kremlin yang menyatakan telah mampu mendamaikan para etnis yang tengah bertikai. Warga setempat pun khawatir wilayahnya akan menjadi Chechnya kedua. Belum ada pihak yang menyatakan bertanggungjawab atas serangan ini.

Berdasarkan laporan, dua gedung handur berkeping-keping akibat ledakan ini. Sebuah lubang besar akibat ledakan pun terlihat di halaman markas polisi yang menjadi target serangan.

Pihak keamanan menyatakan pelaku bom bunuh diri menabrakkan truknya ke gerbang kantor polisi, saat para petugas tengah bersiap untuk apel pagi. Sejumlah petugas yang melihatnya berusaha menghentikan laju truk dengan melepaskan tembakan, namun gagal. Ledakan dari truk kemudian memicu ledakan dari gudang senjata yang berisi sejumlah bahan peledak.

Sejumlah apartemen dan perkantoran di sekitar kantor polisi mengalami kerusakan parah. Sehingga korban sipil pun tak terhindarkan. Disebutkan 20 polisi meninggal dunia dan 130 orang terluka. Diperkirakan jumlah korban meninggal akan terus bertambah.

Presiden Rusia Dmitry Medvedev usai mendengar kabar adanya ledakan, langsung memecat pucuk pimpinan polisi di Ingushetia “Serangan teroris ini seharusnya bisa dicegah,” ujarnya seperti dilansir dari AP.

Situasi keamanan di Ingushetia akhir-akhir ini memang tengah bergejolak. Beberapa waktu lalu, sebuah bom bunuh diri juga melukai pejabat setampat, Yunus-Bek Yevkurov. Yevkurov menuding para milisi yang selama ini bergerilya di hutan sebagai pelakunya. “Ini adalah usaha untuk membuat situasi tidak kondusif,” ujar dia melalui juru bicaranya.

Serangan bom yang bertubi-tubi menjadikan pekerjaan rumah berat bagi pemerintahan Kremlin bagi wilayah yang dihuni mayoritas muslim ini.

Di bawah kepemimpinan Vladimir Putin, situasi aman di wilayah ini berubah menjadi kacau setelah pecahnya dua perang sejak tahun 1994. Kini pertempuran telah usai dan Kremlin telah memfokuskan kebijakannya pada pembangunan serta mengembalikan kekuasaan kepada pemimpin lokal.

Namun banyak tokoh lokal yang memiliki kekuatan bersenjata resisten dengan kebijakan Kremlin. Presiden Chechnya terdahulu, Ramzan Kadyrov, dituding bertanggungjawab atas pelanggaran HAM berat di Ingushetia. Pelanggaran HAM itu mayoritas dilakukan polisi. Hal inilah yang memicu kebencian dari penduduk lokal.

Sumber : international.okezone.com

Related posts:

  1. Polisi Nigeria Revisi Jumlah Tewas Konflik Etnis Jadi 109
  2. Rusia Tewaskan Seorang Pemimpin Gerilyawan
  3. Misteri Rokok Meledak, Polisi Akan Periksa Distributor & Pabrik Clas Mild
  4. Polisi Bekasi Selidiki Misteri Rokok Meledak Saat Diisap
  5. Ibrohim Tewas Hanya dengan 1 Luka di Punggung
Posted by joglopos on Aug 17th, 2009 and filed under Internasional. You can follow any responses to this entry through the RSS 2.0. You can leave a response by filling following comment form or trackback to this entry from your site

Sepi ya ... ayo komentar dooong! biar tambah seru...

Arsip

code-3
News & Media Blogs - BlogCatalog Blog Directory Add to Technorati Favorites TopOfBlogs Show all blogs Personal Top Blogs Blog Iseng blog search directory blogarama - the blog directory blog, berita, indonesia, joglopos, joglo pos My Ping in TotalPing.com